Jumat, 28 Oktober 2016

"NYAI MERAH".


Bandung Medical Center.

"NYAI MERAH".




Hari ini aku dan 3 kawanku memberanikan diri untuk datang kerumah sakit yang katanya 'Angker’, sebelumnya aku memang berniat mencari tempat berhantu di kotaku ini. Setelah aku membaca beberapa tempat, aku menemukan sebuah rumah sakit yang berada di Jalan H. wasid, rumah sakit ini sudah tidak digunakan selama belasan tahun. Untuk sebuah gedung 1 bulan tanpa penghuninya saja sudah ada penghuni lain apalagi ini belasan tahun.

Sesampainya kami disana, kami disambut oleh gerbang rumah sakit yang rusak, jalanan yang becek karena sore tadi bandung diguyur hujan yang begitu deras.

“Kamu yakin mau masuk tuh rumah sakit?”.

Aku dengan tegas meng’IYA’kan.

“Kenapa , kalian takut?!”.  Tantangku.

Mereka hanya saling menatap.

Aku melihat bapak penjaga, bapak itu menghampiri kami, iya menanyakan tujuan kami datang ketempat ini untuk apa, aku menjelaskan ingin membuang rasa penasaranku saja.

Ketiga temanku Nisa, Adam dan Opik, masih memarahiku dengan kegilaan nekatku.

Nisa yang sudah baca beberapa artikel tentang tempat ini mewanti-wanti, kalau sudah lewat jam magrib jangan masuk tempat ini apalagi sehabis hujan mereka akan menampakan diri.

Penjaganyapun membenarkan, namun karena penasaranku lebih besar dari rasa takut, aku meyakinkan mereka ‘TIDAK AKAN TERJADI APA-APA’.

Ketika memasuki ruangan tunggu, tempat disini cukup nyaman hanya atapnya saja yang banyak sarang laba-laba.

Gedung ini memiliki 4 lantai dengan halaman yang luas, sebelum kami berkeliling kami melakukan doa untuk keselamatan.

Pak ahmad bilang untuk tidak sompral bila salah satu dari kami melihat ‘SESUATU’ dari mereka, jangan dibicarakan. Bila perasaan sudah tidak nyaman tinggalkan tempat ini karena kita tidak tau apa yang akan terjadi didalam sana.

Waktu menunjukan jam 7 malam, tempat ini sangat menakutkan, lorong demi lorong kita telusuri , sarang laba-laba terus kita temui disepanjang jalan, gedung rumah sakit ini tidak seperti bangunan rumah sakit biasanya, bangunan ciri khas belanda masih melekat dibangunan ini.

Ruangan demi ruangan kami lewati, sampai akhirnya kami menemukan ruangan instalasi bayi.
Konon diruangan ini ‘Penghuninya’ sering ‘Menyapa’, memang aura dilorong ini sangat berbeda?!, rasanya panas entah kenapa.

Opik yang sibuk memphoto sudut demi sudut  rumah sakit, tiba-tiba terdiam.

Kami yang masih hanyut dalam suasanan melihat Opik heran, aku menanyakan apa yang terjadi?.

Opik bilang kameranya mati.

Adam mencoba memperbaiki kamera, aku dan Nisa saling menatap heran. Nisa mengeluh ingin pulang tapi aku meyakinkannya itu hal yang wajar terjadi bukan gangguan gaib mungkin kameranya habis baterai  karena sebelum ketempat ini kami melakukan photo-photo di Jalan Asia Afrika.
Opik meyangkal opiniku karena menurutnya baterai kamera masih penuh.

Suasana semakin tidak jelas, aku yang kesal tetap mempertahankan egoku.

Pak Ahmad memperingatkan kami semua bila sudah tidak enak hati mending keluar dari sini.

Aku menahan niat mereka karena aku masih penasaran dengan gedung ini.

“ini udah pertanda, kalau kita lanjutin ini bakalan ngga bener”  kesal Adam.

“yaa kalau kalian takut, kalian keluar biarin aku sama pak Ahmad disini”  kataku.

Adam melihatku dan memalingkan muka, itu tandanya dia membenciku sekarang.

Kami melanjutkan perjalanan, aku menemukan  papan yang bertulisakan kalimat “DILARANG MASUK”.

Peringatan tulisan dipapan pintu itu sangat menakutkan namun sangat memicu rasa penasaranku.

Aku menanyakan ruangan itu pada pak Ahmad, jawabnya itu adalah kamar mayat. Aku mengeluarkan handphoneku dan mencoba memphoto, karena menurutku terlalu jauh, aku mencoba mendekat pada pintu itu, pak Ahmad menghentikan langkahku dan bilang “JANGAN!”, aku yang kaget langsung menghentikan niatku, kamera handphone tiba-tiba tak bisa digunakan, lampu senter yang dipegang pak Ahmadpun mati.

Lorong ini begitu gelap, kami langsung mendekat satu sama lain, aku menyalakan lampu flash.

Aku menyorot semua yang berada didekatku.

Semua panik, tak lama kemudian ketika lampu senter milik pak Ahmad menyala, kami mendengar suara perempuan ‘Cekikikan’, sontak kami mencari dari mana arah suara itu.

Astaga, kami melihat sosok perempuan berdiri  didepan pintu kamar mayat itu, ia menunduk dan menangis. bulukuduku berdiri , apa yang aku lihat sangat mengerikan, sekarang ia melihat kami dengan penuh dendam ia menjambak-jambak rambutnya.

“NISA!!!!”, teriak Adam,  iya itu Nisa, Nisa “KESURUPAN”.

Semua berlari kearahnya pak Ahmad membacakan doa-doa , Nisa menjerit, menangis ,tertawa, expresi itu terus bergantian, sampai akhirnya Nisa tak sadarkan diri.

Kami langsung membawanya menuju ruang tunggu utama.

Kami berlari meninggalkan tempat itu,  pintu kamar mayat itu terbuka dan tertutup dengan sendirinya, kamipun mendengar suara cekikikan dari arah lainnya , gerak langkah kami terdengar diseluruh ruangan, aku melihat sekelebat gaun bewarna merah turun dari lantai yang paling atas, aku membaca doa, suara cekikikan itu semakin terdengar.

Dilorong ujung yang sangat gelap ternyata ada sosok mahluk lain disana, ia melihat kearah kami dengan mata yang bewarna merah, sosok itu terlihat tinggi besar dan berbulu yang biasa orang sebut ‘GENDERUWO’,pak Ahmad bilang jangan panik, kami  tidak percaya dengan apa yang kami lihat.
Sosok itu sekarang “MENDEKAT”, suara cekikikan itupun berada dibelakangku sekarang.

Tubuhku mematung untuk bicarapun tak bisa, kami memejamkan mata dan membaca doa-doa.
Sampai mahluk itu tidak ada.

Sesampainya kami diruang tunggu kami langsung keluar  dan membawa Nisa kedalam mobil.

Kamipun meninggalkan rumah sakit.

Ketika didalam mobil kita semua bercerita tentang kejadian yang barusan dialami.

Sebelum kameranya mati, Opik  bercerita  dilorong instalasi bayi, ia melihat anak kecil didalam ruangan, anak kecil itu berwajah rata  ia seperti memanggil nama “mama”.

Adampun bilang pas kejadian dilorong kamar mayat itu dia melihat sosok berbaju merah mengajak Nisa tetapi ia tidak melihat dengan jelas kiranya Nisa pergi bersama Opik karena kebetulan Opik memakai jaket merah, aku bilang pada mereka semua untuk melupakan kejadian ini.

Aku melihat Nisa belum sadarkan diri ia ada di jok belakang dengan rambut yang menutupi wajahnya.

Handphoneku berbunyi  “Nisa” memanggil, aku yang heran langsung menjawab.

Nisa marah-marah katanya dia masih di gedung Rumah Sakit.

Aku yang kebingunan langsung melihat jok  belakang dan sosok itu tak ada?!.

Bearti yang berada di jok belakang itu bukan Nisa?!.

Aku bilang pada Opik untuk kembali lagi ke rumah sakit , kami heran setengah mati!. ketika kami balik lagi dan menceritakan kejadian yang baru kami alami, pak Ahmad langsung menetralkan diri kami masing-masing.

Pak Ahmad meminumkan air yang sudah diberi doa-doa kepada kami.

Aku yang merasa bersalah, meminta maaf pada mereka.

Pak Ahmad bilang pulang dari sini mandi dengan membaca doa dan ayat kursi.

Kami meng’IYA’kan.

Pak Ahmadpun heran kenapa Nisa ditinggal sendiri diruang tunggu ketika pak ahmad mengambil air minum.

Kejadian ini tak akan pernah aku lupakan .

Aku baru mengerti  ketika kita mencari keberadaannya,  mereka akan mengajak kita untuk bermain bersamannya.

Bila kamu tak percaya dengan ceritaku, langsung saja kunjungi tempat ini, diatas jam 6 malam apakah pak Ahmad akan mengijinkan kalian untuk masuk bila tidak, tanyakan alasannya kenapa?!.

Budiman


Rabu, 03 Agustus 2016


“Karena kegelapan akan membuka pintu dunia lain, aku percaya itu!”.

Kejadian ini bertempatan di hari senin 1 Agustus 2016.

Namaku Budiman ini cerita mistis yang aku alami percaya atau ngga tapi aku mengalaminya sendiri.
Malam itu tepatnya malam selasa.

 Aku  baru pulang hunting photo di daerah dago atas  bersama Aldy dan Reyhan sebelum pulang kami menunggu redanya hujan di salah satu mini market dekat SMAN favorite di kota Bandung sampai akhirnya Jam menunjukan 12:00 malam.

 Aku pamit pulang karena aku ingat dirumah ada keponakanku sendiri, karena orang tuaku pergi ke Jakarta.

“Gue duluan pulang yaa  soalnya ada ponakan gue sendiri dirumah, lagian juga nih badan udah remuk entar deh kalau photo, gue nanti kirimin di line oke, gue edit edit dulu.”

“Iyaa yaudah hati-hati lu, kita juga mau pulang ko, mumpung ujanya reda”.

Sesudah pamit aku pergi meninggalkan mereka.
Dalam perjalanan.Aku tak melihat ada cahaya lampu jalan yang menyala, jalan ini sangat gelap penghilatanku dibantu oleh cahaya dari lampu motorku saja.

Lampu lalulintaspun tak menyala alhasil mobil lalulalang sembarangan.

“:Kayanya lagi ada pemadaman lampu”. Aku berhenti distopan buah-batu mobil yang dibelakangku terus mengklakson, aku yang bingung antara maju dan tidak karena lampu lalu lintasnya juga mati, mobil itu langsung melaju cepat dan bilang ‘Tuli lo’ teriaknya.“Udah tau gue bingung mau maju, arah sana maju, gimana kalau gue ketabrak, norak lo dasar” teriakku. tetesan air hujan menyadarkanku untuk maju. “yaa hujan lagi” kesalku.

Ketika aku memasuki komplek rumah, biasanya ada tukang ronda atau ngga tukang nasi goreng langgananku tapi kali ini entah pada kemana?, yang jelas aku tak melihat satu orangpun.

Hujanpun kembali turun bahkan lebih deras dari sebelumnya.

Pintu rumah tak terkunci, aku yang cape langsung memasukan motor dan menuju lantai dua , karena kamarku berada diatas.

Yang membantu penglihatanku saat ini hanya cahaya dari handphone.

Handphoneku menunjukan baterai hanya 15% itu artinya sekitar 20 menit lagi handphoneku mati.

Ketika aku  menaiki tangga,  aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu rumah.
Aku melihat kebelakang dan kembali kebawah memastikan apa yang aku dengar tadi.

Ketika aku membukakan pintu, tak ada siapa-siapa yang kulihat hanyalah air hujan.

Aku langsung menutup pintu.

“Tadi aku denger jelas kalau emang ada yang ketok pintu?” tanyaku heran.

Cahaya lampu handphoneku semakin redup, aku tak bisa melihat dengan jelas, belum sempat aku menemukan jawaban atas pertanyaanku tadi, aku mendengar suara orang mandi dan bersiul, aku kembali penasaran apakah keponakanku mandi jam segini tapi ngga mungkin atau ada orang lain di rumah ini selain kita berdua, aku takut adanya maling karena sebelumya dikomplekku ini ada pencuri.

“Andini, Andini” aku memanggilnya. Suara air itu semakin jelas, ketika aku membuka pintu kamar mandi.

Aku tak melihat siapapun ,bulu kudukku berdiri tetapi aku berpikir positif apa yang aku dengar mungkin gemericik air hujan dari luar dan kedengarnya seperti orang mandi.
Buru-buru aku meinggalkan lantai bawah dan menuju kamar.

Pintu kamar keponakanku terbuka, aku melihat dia sedang duduk di kasur, aku menghampirinya.

“Din udah makan belum?”.tanyaku sembari buka pintu.
Ketika aku menyorotnya dengan cahaya handphone, keponakanku tertidur pulas, berbaring membelakangiku, aku heran sangat heran, aku terus bertanya apa ini sugestiku saja atau memang benar terjadi tapi aku liat dia sedang duduk tadi?!.

Lagian setahuku Andini tak pernah mengigo.
Ketika aku kembali pergi kekamar, tiba-tiba dibelakangku, yaa tepat dibelakangku ada seseorang berdiri entah keponakanku yang bangun atau siapa, dia bernafas tepat di pundakku, kali ini aku tak berani melihatnya aku yakin seyakin-yakinnya dia bukan Andini karena ketika cahaya handphone menerangi tangan kiriku, aku melihat ada tangan lainnya bewarna putih pucat, uratnya terlihat biru, kukunya memar  dan berdarah seperti tergeleng  sesuatu yang berat, tanpa pikir panjang aku berlari ke kamar, mengunci pintu. aku takut sangat TAKUT! , aku mencoba melihat kedalam lubang pintu mencari tahu siapa sosok itu?!, tetapi sosok itu tak ada.
Aku masih membelakangi pintu.

 Tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara cekikikan dibelakang pintu ini. Aku yang ketakutan mulai membaca doa-doa yang ku bisa. Entah harus berbuat apa?. tubuhku terasa kaku. Ingin rasanya teriak tetapi tak bisa!.
Sosok itu sekarang bersenandung, tetapi tak jelas dan samar.

Suara itupun lambat laun menghilang  yang terdengar hanyalah derasnya air hujan dari luar.

Pikirku mungkin mahluk itu sudah tak ada.

Ketika aku akan mengambil handphone yang tergeletak disampingku, aku melihat tangan putih pucat itu memegangi handphoneku, itu artinya dia berada di sisiku.
Tubuhku lemas, dan aku tak sadarkan diri.

Esok harinya aku menelephone ibu, menceritakan kejadian semalam. Ibuku hanya bilang mungkin kamu kecapean, aku mencoba meyakinkan ibu tetapi ibu tetap tidak percaya, ketika aku menanyakan soal Andini, ibu menjawab dia ada bersamanya karena kemarin dia maksa untuk ikut dan sore ini akan pulang.

Mendengar jawaban ibu bulu kudukku berdiri bearti yang semalam tidur pulas itu bukan Andini?!.